mahoorney

mahoorney itu bersumber langsung dari lubuk hati gua yang paling dalam (najis banget sih…)

From Starterpack to Sixpack

Cerita kali ini gua persembahkan buat temen-temen gua yang merasa dirinya kelebihan berat badan dan ingin menguranginya. Terutama buat Adhi Laksono yang lagi giat-giatnya diet menjelang hari pernikahannya yang tinggal hitungan bulan. Semoga kisah gua ini bisa menjadi inspirasi.

—– @@@ —–

Hari itu memasuki akhir bulan Februari 2007. Masa perkuliahan gua udah memasuki semester 10. Seperti biasa, sedari pagi gua udah nongkrong di depan komputer. Bukan belajar atau ngerjain tugas akhir, tetapi sekedar main game atau apalah, yang penting bisa menjadi pelarian dari tekanan untuk segera lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Memang, beberapa teman seangkatan gua udah lebih dahulu lulus dan diwisuda pada Januari tahun itu. Contohnya, sahabat karib sekaligua mentor gua yaitu Abang Yunan. Kelulusannya memang sangat mengejutkan banyak orang. Tidak ada yang menyangka ia bakalan lulus secepat ini. Prediksi setiap orang meleset, bahkan banyak bandar taruhan mengaku bangkrut setelah kelulusannya. Tapi apapun itu, kerja kerasnya memang patut diacungi jempol. Lagipula keliatannya usia si Yunan juga memang sudah memasuki separuh baya. Kasian juga kalo ampe kelamaan.

Ketika lagi buka-buka dokumen foto wisuda Yunan, gua jadi inget kalo gua udah lama gak upload foto di Friendster. ”Upload yang mana yah??? Poto ospek 2004, poto KKL, poto KKN, poto Pamela atau…. Wah ini mah jadul semua! Mmm….. Oh iya! Poto waktu di Ungaran aja.” Kebetulan pada akhir 2006, gua ke Gunung Ungaran dalam rangka Pendidikan Dasar Philar XV. Karena udah senior, biasalah kerjaannya poto-poto doang.

Gua telurusi folder ’Pendas Philar 2006’. Akhirnya gua temuin poto yang rada keren. Di foto itu gua lagi tolak pinggang (khas para pejuang yang berpose di buku sejarah), memakai celana tentara ¾, berlatar belakang goa yang diatasnya mengalir air terjun. Elok nian poto ini. Sayang seribu sayang, di foto ini gua lagi telanjang dada….

Sebenarnya soal ketelanjangan itu bukan masalah buat gua. Yang jadi persoalan sekarang adalah gua baru menyadari bahwa timbunan lemak di perut gua udah berubah dari tas pinggang menjadi tas punggung (cuma ini ditaruh di depan). Gila aja, gua keliatan seperti orang mau melahirkan. Kurang sedikit lagi gua pasti bisa mendaftar sekolah sumo.

Memang sih, belakangan ini gua rada males beraktifitas. Ini semua gara-gara patah tulang tangan kiri pada Agustus 2006 (baca juga cerita Parental Advisory – Explisit Content) yang membuat pergerakan gua, yang biasanya pecicilan, agak terhambat. Otomatis hari-hari gua lebih didominasi santai-santai nonton TV atau pelem semi diatas tempat tidur, yang tanpa gua sadari membuat berat badan gua terus meningkat.

Pikiran gua mulai berkecamuk. Gua mulai mikir yang kaga-kaga. Jangan sampe deh gua jadi pesumo. Kalo itu ampe jadi nyata, berarti gua mesti pergi ke Jepang dong? Terus sampe disana gua ketemu produser S1 (S One), lalu diajak ke studionya untuk maen pilem bareng Miyabi…..

Miyabi: “Maho-san, mana nih? Ayo dong, I’m ready…..”

Maho: “Euuhh… Euuhh… Duh maaf dek Miyabi. ‘Itu’-nya keganjel perut!”

Miyabi: “……………” (Bengong sambil ngipas-ngipas)

Maho: ”Hehehe… Maaf yak semuanya…” (Cengar-cengir salah tingkah)

Sutradara: ”CUTTTT!!!!!!!!”

Waduh! Bahaya nih! Gak bisa dibiarin. Gua mesti melakukan sesuatu sebelum ini bertambah parah. Tanpa pikir panjang, gua langsung cabut menuju apotek.

Sesampainya di apotek, gua langsung membeli 1 strip obat sakit kepala yang paling murah terus langsung menuju sudut ruangan dimana timbangan berada. Hehe… Tujuan utama gua ke apotek emang nimbang badan, bukan nyari obat! Tapi daripada tengsin, mending keluar duit dikit buat sekedar basa-basi.

”Gila!!! 72kg cuy!” Gua langsung ngecek timbangannya. Apa jangan-jangan jarumnya udah dua kali muter. ”Fyuuh… Syukurlah.” Alhamdulillah ternyata baru sekali. Namun tetap saja 72kg bukanlah berat ideal bagi gua yang hanya bertinggi 168cm. Dalam hati gua berkobar-kobar niatan untuk diet ketat.

—– @@@ —–

Beruntungnya, gua adalah seorang yang egois dan berpendirian keras. Apapun yang menjadi kemauan gua harus terlaksana. Tak peduli apapun resikonya. Pokoknya selama hayat masih dikandung badan, gua akan melaksanankan sebisa mungkin apa yang sudah gua niatkan, walaupun harus bersimbah peluh atau darah sekalipun. (Lebay mode: ON)

Hari-hari berikutnya berlalu dengan tiada satu detik pun terlewatkan tanpa beraktifitas. Tidak ada bengong, males-malesan ataupun tidur-tiduran. Dalam setiap minggunya, dua kali gua berenang (hari selasa dan kamis), satu kali lari pagi 4km (hari minggu), tiga kali angkat berat (senin, rabu dan jum’at), empat kali senam (hari senin, rabu, jumat dan minggu) dan satu kali futsal (hari sabtu). Kebetulan kuliah gua juga udah selesai, tinggal beberapa mata kuliah saja yang mesti diperbaiki. So, mudah saja untuk mengatur jadwalnya.

Selain berolahraga, gua juga mengatur pola makan. Gua menghindari makanan-makanan yang tinggi kadar lemaknya seperti gorengan atau jeroan. Gua juga mengurangi konsumsi gula. Pokoknya gua bener-bener mengontrol apa yang masuk ke perut gua sampe-sampe gua rajin membaca artikel kesehatan, terutama yang berhubungan dengan kalori pada setiap makanan. Jujur, hal ini berat banget! Apalagi gua anak kost yang makanannya didominasi makanan warung. Susah nyari makanan rendah lemak. Apalagi kalo malem. Lo tau sendiri malem hari yang jual makanan didominasi warung tenda pecel lele atau ayam goreng yang menggorengnya aja menggunakan minyak yang warnanya udah item butek gak karuan. Terkadang, demi diet gua terpaksa membeli makanan mentah di supermarket untuk kemudian memasaknya di dapur kost. Lumayan lah, itung-itung skill koki gua bertambah.

Sebulan kemudian, hasilnya sudah mulai kelihatan. Bobot gua berkurang 7kg! Gak sia-sia pengorbanan gua. Bahkan hingga beberapa bulan kemudian berat gua terus turun sampai titik terendahnya yaitu 56kg! Perut yang tadinya bulat pun berubah jadi kotak-kotak. Yang tadinya starter pack menjadi six pack!

Gimana cuy? Pokoknya buat lo yang udah overweight, silakan deh dicoba. Yang terpenting adalah niat dan konsistensi. Where there’s a will, there’s a way. Sebagai motivasi, lo mesti mengatur mindset bahwa hal ini baik untuk kesehatan dan untuk jangka panjang. Soalnya pengalaman gua selama berolahraga, terutama lari pagi dan berenang, gua banyak menjumpai orang-orang lanjut usia. Kenapa mereka baru memulai ketika hari tuanya, sebagai terapi dari penyakit yang mereka derita?

Berikut ini beberapa tambahan tips-tips buat lo yang ingin menjalani program diet.

  1. Diet itu mengatur pola makan, bukan menahan diri untuk tidak makan.

Terkadang orang-orang sering salah kaprah. Mereka menganggap untuk menurunkan bobot tubuhnya, mereka harus menahan keinginan untuk makan. Kalo kita lakukan ini, yang ada bukan tambah sehat malah jadi sakit. Justru kebalikannya, dalam diet yang baik kita harus lebih sering makan, namun tentunya dengan mengontrol porsi atau dengan kata lain dengan porsi lebih sedikit. Frekuensi makan yang sering akan mengakibatkan kestabilan gula darah yang mengakibatkan pengendalian nafsu makan jadi lebih baik dan mengurangi produksi insulin dalam tubuh. Sebagai pengetahuan, insulin adalah hormon dalam tubuh yang menginstruksikan tubuh untuk menyimpan cadangan energi dengan membentuk sel-sel lemak baru.

  1. Hindari mengkonsumsi makanan berlemak dan kurangi konsumsi gula.

Inilah hal terberat buat gua. Kebiasaan gua mengkonsumsi gorengan, snack, coklat, es krim, tongseng, paru dan belut goreng mesti gua tinggalkan. Untungnya pete dan jengkol gak termasuk makanan tinggi lemak. Jadinya masih ada makanan favorit yang bisa masuk perut. Pokoknya gua mesti makan makanan dengan kadar lemak rendah. Untuk mensiasati kebosanan ini, gua mengatur bahwa pada hari sabtu dan minggu pantangan ini boleh dilanggar, namun tetap tidak berlebihan. Selain itu, konsumsi gula juga perlu diatur. Secara tidak sadar, konsumsi gula yang berlebihan berpengaruh juga terhadap kenaikan berat badan kita. Untuk mengakalinya, gua menggunakan gula jagung dan madu sebagai pengganti gula pasir.

  1. Penuhi kebutuhan protein dan imbangi dengan minum banyak air putih.

Protein adalah katalis terbentuknya hormon-hormon penting dalam tubuh seperti hormon pertumbuhan dan testosteron. Kedua jenis hormon ini meregulasi tingkat laju pertumbuhan otot, pembakaran lemak serta laju penuaan seseorang. Ketika mengkonsumsi protein, kerja ginjal lebih berat jika dibandingkan saat mengkonsumsi karbohidrat. Oleh karena itu, imbangi dengan minum air putih minimal 3 liter per hari. Kalo gak ada air, pertamax juga boleh. Monggo wae.

  1. Jangan lupa untuk sarapan pagi dan hindari ngemil di malam hari.

Sarapan pagi adalah konsumsi yang terpenting. Sarapan membantu prosesmetabolisme dan bermanfaat menyediakan energi untuk memulai aktifitas sehari-hari. Sebaliknya, kebiasaan ngemil di malam hari akan membantu proses penimbunan lemak dalam tubuh. Memang, pada saat tidur kita juga membutuhkan kalori. Namun tidaklah sebanyak konsumsi ketika kita bergerak. Oleh karena itu usahakan untuk makan lebih banyak saat sarapan pagi dibandingkan pada saat makan malam. Dan jangan buru-buru tidur sehabis makan. Tunggulah sejenak barang 1 atau 2 hari… eh, maksudnya 1 atau 2 jam.

  1. Perbanyak makan serat.

Jangan salah ya, serat yang dimaksud didapat dari sayuran dan buah-buahan. Jadi, bukan dari keset, karpet, kain apalagi tali rafia. Serat bukan hanya bagus untuk menurunkan berat badan dan bikin perut terus kenyang. Serat juga mencegah konstipasi yang menyebabkan perut jadi buncit.

  1. No smoke, no alcohol!

Seringkali orang menyangka bahwa merokok akan menjadikan mereka kurus. Anggapan ini tidaklah benar. Sesungguhnya para perokok memiliki lemak perut lebih banyak dibandingkan dengan bukan perokok. Jika ada contoh perokok yang kurus, bisa terjadi karena dua hal. Yang pertama lebih disebabkan karena mereka terlalu asyik menghisap sehingga lupa mengunyah, dengan kali lain mereka jadi lupa makan dan yang kedua adalah karena mereka dasarnya sudah ceking alias kerempeng. Faktanya, rokok dan juga alkohol cenderung meningkatkan kadar hormon kortisol, sehingga mengirim lemak ke perut.

  1. Berolahraga secara teratur.

Berolahragalah sesuai kemampuan. Gak usah dipaksakan. Yang terpenting adalah adanya konsistensi. Berolahraga secara berlebihan justru malah akan membuat tubuh kita menjadi sakit. Buat lo yang sibuk, olahraga itu gak mesti lari pagi, senam ataupun berenang. Setiap kegiatan yang membakar kalori (aerobik) juga olahraga. Misalnya: daripada naik motor, kita mengutamakan berjalan kaki jika mau ke warung atau kita lebih prefer naik tangga dibandingkan menggunakan lift atau juga buat kita yang bekerja di gedung bertingkat, boleh juga kita melakukan yamakashi dengan memanjat tembok gedung tersebut dari samping untuk sampai ke ruangan kantor kita. Selain itu, gua pribadi rutin melakukan sit-up/crunch setiap harinya minimal 4 set, dimana setiap set-nya 12 kali repetisi. Biasanya gua melakukan ini setiap bangun tidur. Hal ini berfungsi untuk menonjolkan six pack. Pada dasarnya setiap orang memiliki six pack, namun kotak-kotak perut ini penampilannya terhalang oleh lapisan lemak dan air yang berada diantara otot dan kulit. Namun, bukan berarti sit-up dan crunch akan membuang lapisan lemak tersebut. Untuk membuang lapisan tersebut, kita tetap harus melakukan kegiatan yang membakar kalori (aerobik).

Parental Advisory - Explicit Content part.2

(dalam lakon “Misteri Tai Setan”)

Gua orang yang ’hampir’ selalu menepati janji. Kalo nggak ada hambatan-hambatan, insyaAllah gua akan memenuhi apa yang udah gua janjikan. Bagi gua, tidak menepati janji itu ibarat ”menjilat ludah sendiri kemudian meludahkannya ke orang lain sehingga membuat orang tersebut lari ke dalam rumah untuk mencari golok”. Janji itu berkaitan erat dengan kepercayaan. Semakin banyak kita melanggar janji, semakin kita tidak dipercaya orang lain.

Pada kesempatan kali ini, gua akan menulis apa yang gua udah janjikan pada hari-hari sebelumnya yaitu sekuel ”Parental Advisory – Explicit Content”. Seperti biasanya, buat lo yg ga suka hal yg jorok-jorok mending ga usah baca karena cerita ini memang sedikit vulgar. Dari judulnya aja udah ketahuan. Tapi, gua rasa cerita ini masih didalam batas-batas kewajaran dan kemanusiaan.

Agustus 2005, termasuk dalam bulan yang akan terus dikenang oleh setiap anak Elektro Undip angkatan 2002. Pada bulan itu, kami mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Istilahnya doang kuliah. Padahal mah kaga ada niatan untuk belajar dalam kegiatan tersebut. Gua yakin kata ’tamasya’ lebih cocok untuk menggantikan kata KKL dan ini berlaku untuk mayoritas anak Elektro 2002, bukan gua doang! Coba deh, berapa kemeja yang dibawa masing-masing anak dalam kopernya? Paling 1 doang. Kecuali mungkin si Aryo. Sementara koper gua dipenuhi celana pendek dan kaos tangan buntung, anak (atau bapak) yang satu ini mah jangan lagi kemeja, mungkin dasi juga bawa selusin. Maklum deh, wakil rakyat. Hehe… Oke, lanjut lagi. Siapa aja yang bawa buku di dalam kopernya? Cuma ada tiga orang: Anggoro, Yunan dan Desyanto.

  1. Si Anggoro

Kalo si Anggoro, semua anak Elektro juga paham. Ini anak emang super (ke)rajin(an). Gua rasa gak cuma buku,… Laporan praktikum aja dibawa plus stempel-stempelnya!

  1. Si Yunan

Gak beda-beda jauh sama si Anggoro, si Yunan juga bawa buku. Tapi stensil! Print-print-an dari 17th.com & e-book kamasutra. Hehe…

  1. Si Desyanto

Sebagai ulama, Desyanto pasti gak pernah ketinggalan sebuah buku. Lebih tepatnya kitab suci Al Qur’an. Gua aja, selama di hotel, kadang-kadang minjem sama dia. (Oh, my God. Please, forgive me…)

Apapun itu, KKL memang sangat berkesan. Banyak cerita terjadi disini. Mulai dari maen ceng-cengan di bis, karaokean dengan suara (dibawah) pas-pasan, ngintipin turis Jepang lagi ML, maen bola di pantai, diusir satpam, ngejarah makanan dirumah dosen (Pak Trias), ada yang hampir tenggelam di laut, ada yang bermain api asmara dengan tur guide, ada yang hendak ’dibayar’ untuk ’gituan’ di pantai (disangka gigolo),….. pokoknya banyak deh hal-hal seru lainnya. Salah satunya akan gua tuangkan dalam cerita ini.

—– @@@ —–

Pagi itu sinar mentari menyapa dari ufuk timur. Burung-burung berkicau, bernyanyi dengan riangnya, menemplok kesana-kemari. Pagi itu adalah pagi yang cerah, senyum di bibir merah, menikmati hangatnya sinar mentari lembut menyapa. Pokoknya jadi inget lagu alm.Chrisye deh…

Kicau burung bernyanyi

Tanda buana membuka hari

Dan embun pun memudar

Menyongsong fajar

Sejenak kuterlena

Akan kehidupan yang fana

Nikmat alam semesta

Nusa indah nirmala

Indahnya pagi itu sulit terlukiskan dengan kata-kata. Yang jelas, indahnya bisa menghapuskan mimpi-mimpi buruk gua gara-gara gua sekamar sama si Nico. Emang, waktu di bis sempet ada sedikit clash antara gua dan si Nico Sontoloyo itu. Keributan kecil gara-gara maen ceng-cengan. Biasalah para lanang… Tapi hal itu gak berlangsung lama kok. Kebetulan ada kejadian di pagi itu yang mengakibatkan damainya dua anak manusia.

Nico: ”Ho, lu gak mandi?” (membuka percakapan)

Maho: “Lo kalo mau duluan aja gih!” (jaga gengsi)

Nico: ”Gua mah gampang abis lo!”

Maho: “Lu aja deh, bau lo tuh gak nahan…”

Nico: ”Apa lo bilang! Kutu rambut lo tuh udah mesti dikeramasin!”

Maho: ”Enak aja! Jempol kaki lo tuh baunya udah kayak jempol mummi Fir’aun!”

Tiba-tiba, gak tahu dateng dari mana, nongol seseorang. Inisialnya ’J’. ”Bro, gua pinjem WC-nya yah… WC di kamar gua ada yang nempatin.” Belom sempet gua menjawab, si J langsung masuk dan menutup pintu toilet.

Gak berapa lama, si J keluar dari toilet dengan wajah mesam-mesem, terlihat seperti seorang jejeka yang habis nembak cewek trus diterima tapi malu-malu mengungkapkannya ke khalayak ramai. ”Kayaknya ada yang disembunyiin nih….” batin gua.

J: ”Makasih teman-temanku.”

Nico: ”Gapapa bro, sebagai teman kita memang harus saling bantu-membantu.”

Maho: ”Ntar jangan lupa bayar loh. Kencing seribu, berak dua ribu!”

J: “Hehe…” (langsung balik ke kamarnya)

Mungkin menghindari debat yang berkelanjutan, si Nico pun bergegas masuk ke toilet. Gua juga langsung mengambil remote dan menyalakan televisi. ”Gak ada gunanya juga debat sama si Nico Sontoloyo itu.” Tapi, tiba-tiba dari arah kamar mandi terdengar suara.

Nico: ”Mahooooo…. Idiiiih… Kesindang dong bo!!! Jijay deh akika!”

Maho: ”Kenapa sih Nic. Tereak-tereak kayak gitu! Ganggu gua lagi nonton aja!”

Nico: ”Napose-napose!!! Ye lambreta deh. Ini neh si J. Gilingan deh Diana! Beranak dalam kubur tinta disiram!”

Maho: ”Oooo… Pantes aja dia senyam-senyum mencurigakan gitu.”

Nico: ”Akika kirain diana cuma mawar kencana anjas.”

Maho: ”………” (langsung kabur keluar toilet)

Nico: ”Maho! Ye mawar kemindang?”

Maho: “Mawar jali-jali. Hehe.. Tinta deng! Maksud akika, kanua tunggu disindang biar akika cacamarica si J.”

Nico: ”Tinta, biar akika anjas yang nyacamarica kesandro. Lambada disindang, kepelong akika bisa sekong neh…”

Maho: ”Hhhhfff… Cucok deh.”

Akhirnya si Nico keluar mencari si J dengan maksud meminta pertanggung jawaban. Terpaksa deh gua yang nyium aroma terapi ini. Oya, percakapan tadi ngerti kan? Buat lo yang gak ngerti gua kasih salinannya dibawah ini.

Nico: ”Mahooooo…. Idiiiih… Kesini dong cuy!!! Jijik deh gua!”

Maho: ”Kenapa sih Nic. Tereak-tereak kayak gitu! Ganggu gua lagi nonton aja!”

Nico: ”Kenapa-kenapa!!! Lo lama deh. Ini nih si J. Gila dia! Berak kaga disiram!”

Maho: ”Oooo… Pantes aja dia senyam-senyum mencurigakan gitu.”

Nico: ”Gua kirain dia cuma mau kencing aja.”

Maho: ”………” (langsung kabur keluar toilet)

Nico: ”Maho! Lo mau kemana?”

Maho: “ Mau jalan-jalan. Hehe.. Gak deng! Maksud gua, lo tunggu disini biar gua cari si J.”

Nico: ”Ngga, biar gua aja yang nyari kesana. Lama disini, kepala gua bisa sakit nih…”

Maho: ”Hhhhfff… Cocok deh.”

Daripada lama nungguin si Nico, gua ngambil inisiatif. ”Harus ada yang berkorban atau ada dikorbankan. Merdeka ataoe mati!!!” Begitulah semangat gua yang membara-bara.

”Gimana ini ya???” Gua terus berpikir. Yang jadi masalah, flusher WC-nya gak mampu mendorong bakpau ayam bumbu kacang itu. Berhubung di hotel kaga ada gayung apalagi ember, terpaksa deh gua bantu dorong menggunakan gelas. Cyuuuur……

Maho: ”Errrrggghhh! Susah banget sih nyirem lu!!!”

Tokai: ”Wweeeekk… Gak kena… Gak kena… ”

Maho: ”Sialan lo ngeledek gua! Lo kira gua takut??? Rasakan nih jurus gelas pengaduk kotoran!!!”

Yunan: ”Ada apaan sih Ho ribut-ribut??? Ada yang bisa gua bantu?”

Maho: ”Lah kok lo ada disini? Di scene ini seharusnya lo kan gak ada! Yg maen cuma gua, Nico sama si J. Tar deh di cerita-cerita selanjutnya lo jadi pemeran utamanya.”

Yunan: ”Oke deh kalo gitu. Daaaaghhhh….”

”Fyuuuhh…” Ternyata jurus pamungkas gua tetep aja gak mempan. Emang deh kayaknya si ’rudal’ cuma bisa nurut sama orang yang nembakin. Untungnya, gak lama setelah peperangan tersebut, si Nico dateng.

Maho: ”Gimana Nic, perihal kesiapan arek-arek Suroboyo?”

Nico: ”Mereka sudah siap Bung Tomo!”

Maho: “Kalau begitu marilah kita segera mengusir Belanda dari tanah air!!!”

Nico: ”Merdeka!!! Maksud lo apa sih Ho???” (Nico tersadar setelah sebelumnya ikut terbawa suasana)

Maho: ”Si Juned,… Eh, maksud gua si J kemana?”

Nico: ”Bentar lagi juga dateng.”

Maho: ”Hmmm…… Kayaknya momennya pas deh. Gua ada ide!”

Nico: ”Maksud loh???”

Maho: ”Pssssst… Psssttt… …… ….” (berbisik kepada Nico)

Selang beberapa menit, si J pun datang. Dan masalah tersebut akhirnya terselesaikan. Gua gak tau gimana cara dia mengatasinya. Mungkin didorong pakai kaki kali…. Abis gua gak ngeliat sih. Coz gua orangnya gak tegaan. Suka terharu kalo ngeliat yang namanya perpisahan.

Singkat cerita, sejam kemudian kami sudah berada di bis. Disitulah gua dan Nico beraksi.Menyebarkan foto tokai si J yang diberi judul ’Misteri Tai Setan’. Hehe… Brilian gak ide gua? Sebelum si J dateng, tokai itu telah terlebih dahulu kami foto. Buat kenang-kenangan. Abis, jarang-jarang liat ’gituan’ segede itu. Mungkin akumulasi 3 hari kali yak?

Thanks buat J atas permasalahan yang dibuatnya pagi itu. Diambil sisi positifnya aja. Gara-gara ’tai setan’, kondisi di bis yang sebelumnya memanas, jadi membaik seperti sediakala. Bis kami kembali penuh dengan canda tawa. Burung-burung pun kembali berkicau, bernyanyi dengan riangnya, menemplok kesana-kemari. Sungguh suatu pagi yang cerah.

Hmmm,…… KKL emang penuh kenangan ya???

Malam Mencekam di Kereta Senja

Ada dua makhluk yang paling gua benci di dunia ini. Kalo ngeliat dua makhluk ini, bulu kuduk gua bisa merinding sampai hampir beterbangan. Pokoknya gua jijik banget deh sama keduanya. Makhluk-makhluk ini tergabung dalam duet 2B, yang pertama adalah biang (anjing) dan yang kedua adalah banci.

Bicara soal anjing, gua emang udah sebel ama ini makhluk sedari dulu kala, bahkan sebelum gua tau kalo anjing termasuk dalam najis mughalladzah (najis besar). Lo bayangin aja, ketika baru memasuki usia 4 tahun, pantat gua udah merasakan kejamnya moncong anjing. Untung aja ketika itu tante gua sigap dan cekatan sehingga anjing itu gak berlama-lama main di sekitar selangkangan gua.

Setelah kejadian itu sampai sekarang gak terhitung berapa kali gua bermasalah sama makhluk yang punya nama latin Asusia Kirikensis. Hampir setiap sore sepulang dari pengajian, gua selalu balap lari sama anjing. Pernah juga siang hari sepulang dari sekolah, gua dikepung sama sekawanan anjing. Bahkan di rumah sodara, gua pernah dikejar sama anjing piaraannya. Untung aja itu anjing gak berani masuk kamar tidur majikannya.

Gua: ”Dasar anjing lo!!!”

Anjing: ”Guk… Guk… Guk… (Emang gua anjing,.. Lah lo jadi manusia pengecut amat ngumpet di tempat majikan gua!)”

Gua: ”Heh, gua bukannya takut… Gua jijay sama mulut lo, banyak bakterinya!!!”

Anjing: ”Groook… Groook…(Alesan aja. Pokoknya lo bakalan gua tunggu ampe keluar kamar)”

Gua: ”Silakan aja. Paling bentar lagi majikan lo dateng kemari. Lagipula lo anjing apa babi? Suaranya kok kayak gitu?

Anjing: ”Groook… Ehm… Ehm.. Guk… Guk… (Sori cuy, tenggorokan gua emang lagi rada kagak enak.)”

Karena anjing itu setia jagain di depan, yah terpaksa deh gua mendekam agak lama di kamar sodara gua, nunggu situasi aman terkendali dan sejak saat itu gua gak pernah lagi berkunjung ke tempat dia. Alasannya? Malaikat juga tahu….

Cukup deh ngomongin soal anjing. Nanti malah cerita utamanya gak tersampaikan. Tapi, walaupun ini cuma intermezzo, cerita tadi masih berhubungan dengan cerita utamanya. Bisa dibilang kisah utamanya mempunyai hubungan persahabatan dengan kisah gua dan si anjing tadi. ”Kenapa? …….. Pokoknya lu simak aja deh nanti juga paham.”

—– @@@ —–

Malam itu, hari memasuki bulan Oktober 2005. Kalo di Eropa mungkin waktu itu sudah masuk musim dingin. Tapi karena ini di Indonesia (khususnya di Semarang), tetep aja always summer. Hehe… Walaupun sama seperti Eropa yang mempunyai 4 musim, pembagian musim di Indonesia tidak merata. Indonesia memang selalu didominasi musim panas, mungkin sekitar tujuh bulan. Sisanya berturut-turut ditempati musim hujan, musim durian dan musim layangan.

Gua: ”Mbak, tiket Senja untuk malam ini masih ada?”

Penjaga loket: ”Masih ada kok mas, untuk berapa orang?”

Gua: ”Satu aja!”

Yes, akhirnya bisa pulang kampung! Setelah sekian lama merantau di negeri orang, akhirnya gua bisa meluangkan sedikit waktu gua untuk menjenguk Emak dan Bapak di rumah. ”Hhhhhhhh……….. (menarik nafas panjang)”

”Waduh, bangku nomer 2D! Berarti deket WC nih… Gapapa deh.” Gua langsung mencari tempat duduk. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum keberangkatan kereta.

”Permisi kek, saya duduk dekat jendela ya?” tanya gua kepada seorang kakek tua.

”Oya cu, silakan…” jawab kakek itu. Gua langsung duduk dan membuka koran Bola yang baru gua beli.

Kriieek…. ”Suara apaan tuh?” Gua melirik kearah jendela. ”Ooo, besi di jendelanya udah agak karatan.” Hehe… Pikiran gua emang rada macem-macem. Maklum, maniak dunia mistik dan alam gaib. Apalagi ditambah pada tahun itu hal-hal yang begituan memang lagi booming.

Sebagai seorang mistikers, gua memang biasa disuguhi atau menyaksikan fenomena-fenomena alam gaib. Dari mulai mendengar suara orang mandi di kamar mandi yang kosong, mencium seperti bau jenazah padahal gak ada apa-apa, ngeliat kain sutra terbang bolak-balik diatas kepala gua sampe-sampe ngeliat anjing berubah jadi ular. Terlebih lagi gua memang jelmaan manusia kalong. Hehe… Jangan kaget dulu, maksud gua yaitu biasa menjadikan malam sebagai siang dan sebaliknya. Pokoknya tidur always pagi.

Capek juga mata gua baca koran. Apalagi lampu kereta agak redup gitu. Yang satu nyala, yang lain mati. Gak beraturan deh. Akhirnya gua menutup koran Bola tersebut. ”Loh kakek-kakek sebelah gua mana?” Mata gua melirik ke sebelah kiri. Kakek tersebut telah berganti wujud menjadi seorang pria usia kira-kira 35-an, tinggi besar, agak gemuk, berkulit kehitaman dan berjerawat sangat banyak.

Gua memberanikan diri untuk bertanya. ”Bapak melihat kakek-kakek yang tadi duduk di sebelah saya?” Dia kemudian menoleh kearah saya. Menebarkan senyumannya lalu menjawab dengan suara yang aneh ”Baru aja pindah tempat duduk. Oya jangan panggil aku Bapak, panggil saja aku xxxxx.” (Nama bukan disamarkan, tetapi emang gua yg lupa. Hehe…)

Gua: ”Fyuh,… Syukurlah… Saya Aditya.”

Xxxxx: ”Loh ada apa? Kok keliatan kaget?”

Gua: ”Nggak,.. Nggak ada apa-apa.”

Xxxxx: ”Ceritanya begini, sebenarnya aku memang duduk disini. Tapi tadi tukeran bangku sama kakek itu. Aku lebih suka duduk di belakang. Eh, ternyata bangkunya jelek. Ya udah kutuker lagi.”

Gua: ”Oooo, begitu.”

Xxxxx: ”Aditya, mau ke Jakarta?”

Gua: ”Ya, orangtua tinggal disana.”

Xxxxx: ”Oh jadi Aditya tinggal disini? Kerja atau kuliah?”

Gua: ”Saya kuliah di Teknik Elektro Undip.”

Xxxxx: ”Kamu pasti heran melihat aku?” (Tiba-tiba mengalihkan pembicaraan)

Gua: ”Heran kenapa?”

Xxxxx: ”Ah pura-pura nggak tau. Memang, aku kalau diluar apalagi di tempat umum kayak gini selalu berpenampilan layaknya lelaki. Tetapi kalau keseharian aku agak feminim. Malah aku terbiasa memakai pakaian terusan atau gaun.”

Gua: ”Eh, gapapa kok. Saya maklum.” (Sebenarnya gak terlalu kaget. Pantesan aja firasat gua kok ada yang aneh begitu dengerin suaranya.)

Xxxxx: ”Ayah aku seorang tentara. Ia mengusir aku dari rumah begitu tahu kondisiku.”

Gua: ”………” (Speechless. Bukan karena iba, tapi karena mau muntah)

Xxxxx : ”Oya aku ada permen nih.” (Ia kemudian mengambil sebungkus permen Hex** dari dalam tasnya, merobeknya dan memberikan sebuah kepada gua.)

Gua: ”Eh, gak usah Pak… eh, Xxxx…. Saya udah ada….” (Gua mulai teringat nasehat ibu gua untuk menolak pemberian dari orang asing.)

Xxxxx: ”Tuh kan kamu gitu deh. Nanti aku marah loh!”

Ekspresi ngambeknya kaga nahanin cuy. Gimana ya jelasinnya? Sumpah, eneg banget ngeliatnya. Mana tampangnya serem lagi. Coba aja yg begini Oscar Lawalata… Eh, maksud gua Dian Sastro, pasti perut gua gak bakal mual kayak gini. Dengan terpaksa gua mengambil permen itu dan memasukkan kedalam mulut. Walopun begitu, cairannya gak bakal gua telen. Setelah itu, gua izin ke toilet lalu memuntahkan permen tersebut (beserta nasi gudeg rempela yang sebelumnya gua makan) dan kembali dengan mulut berpura-pura masih mengemut-emut permen. Begini-gini, gua masih punya darah Jawa yang menjunjung tinggi keramahtamahan dan prinsip menghormati dan menghargai perasaan orang lain. So, kalo gak terdesak gua gak bakal menyakiti perasaan orang lain didepan umum.

Xxxxx: ”Ngomong-ngomong tampang kamu oke juga. Kebetulan aku kerja di sebuah PH (production house-red). Mau gak aku orbitin jadi model?” (Mulai membuka percakapan baru.)

Gua: ”Wah maaf Xxxx. Saya tidak tertarik di bidang itu. Saya lebih tertarik ke olahraga.”

Xxxxx: ”Masak iya atlet betisnya kecil???” (Tiba-tiba ia melihat kearah betis dan bagai kilat tangannya dengan cepat merambat hingga ke betis gua dan mulai mengelus-elusnya.)

Gua: ”Waduh, lo kata gua tukang becak betisnya gede!” (Gua menepis tangannya dari betis gua)

Kemudian dia melanjutkan pembicaraan makin kearah hal-hal yang tabu. Mulai dari kebiasaan dia dugem, tempat mangkalnya, pacar simpanannya (yg cowok juga), kelihaiannya bermain ’blowjob’ yg bisa membuat seorang laki-laki melupakan ceweknya (kena gigi, uang kembali), bandar VCD bokep, sampai-sampai salon ’plus-plus’ miliknya. Pokoknya omongannya makin membuat gua muak deh. Jijik, gak bakal gua ceritain disini. Hueeekkkk!!!!!

Xxxxx: ”Oya, perut kamu buncit tuh. Aku punya produk pengecil perut di salon aku.” (sambil menunjuk kearah perut gua yang pada saat itu memang belum sixpack kayak sekarang ini)

Gua: ”Ah, gak terlalu kok. Paling kalo saya aerobik lemaknya hilang lagi.”

Xxxxx: ”Masak sih coba deh aku liat.” (Banci itu berniat membuka kaos gua)

Gua: ”Kagak… Kagak bisa.” (Agak sedikit menegaskan)

Xxxxx: ”Kok pake malu sih. Kita kan sama-sama cowok…”

Gua: ”Sorry nih. Saya anak Rohis. Yang begituan tabu buat saya.”

Gua lupa kalo rambut gua waktu itu ’mohawk’. Ya mana percayalah dia gua boongin… Pada saat itu gua berharap di tas gua ada peci yang bisa gua pakai (biar terkesan anak baik-baik) atau pisau yang tajem (biar gua bunuh aja sekalian). Sayangnya dua benda itu nggak ada. “Bakal gak tidur nih malem ini.” Batin gua. “Wah kaga bisa begitu, gua mesti kabur dari sini.”

Gua: ”Wah, kaki saya pegel nih. Mau jalan-jalan ah… ” (Gua mulai mencari-cari alasan)

Xxxxx: ”Oh kalo pegel, mending di selonjorin di paha aku aja. Gapapa kok, kita kan temen”

Gua: ”…………” (*Glek! Mati gua….*)

Seketika itu juga bulu kuduk gua merinding. Idealisme Jawa gua mulai luntur. ”Bodo amat deh. Persetan sama ramah tamah. Orang ini udah gak bisa dibiarin. Liatin aja kalo dia ampe megang-megang tubuh gua, gua abisin ini orang! Tapi sebelum mukulin ini orang, lebih baik gua cari ide yang paling aman. Daripada malu…” Gua liat ke belakang. ”Waduh, penuh banget. Gak bisa pindah bangku nih…”

Ternyata keberuntungan gua memang belum habis. Gak beberapa lama banci itu tidur. Kesempatan emas buat gua. Jangan disia-siakan!

Gua mengendap-endap pelan-pelan kemudian mengambil tas dan langsung cabut menuju restorasi. Gua gak bisa bayangin kalo banci itu ampe bangun trus ngeliat gua pasti dia bakal tereak ”Mas Adit, mau kemana? Tunggu aku mas! Aku mau ikut… Jangan tinggalin aku sendirian. Aku atut… atut… Tapi tunggu bentar ya mas, aku mau pake beha dulu.” Hiiiiiy…. Geli gua.

Restorasi ternyata agak jauh dari gerbong gua. Bagus tuh, berarti dia gak bisa mengendus keberadaan gua. Begitu sampe, gua langsung duduk dan memesan kopi susu panas (biar bisa agak lamaan). Dan akhirnya… Sampailah di Stasiun Jatinegara. Gak sadar gua udah ngabisin 2 gelas kopi susu, 1 piring mie goreng, 1 piring nasi rames. Biarin deh disangka penumpang gelap sama orang-orang. Sing penting selamet! Kesucian gua tetap terjaga. Hehe….

Beberapa bulan setelah kejadian itu, di tempat yang sama, Stasiun Tawang, gua ngeliat orang itu lagi. Gua ngumpet trus ngawasin orang itu masuk kereta. Untung gak satu gerbong sama gua. Tapi tetep aja kejadian itu menyisakan trauma buat gua. Gua masuk kereta, liat kondisi aman, baru duduk. Kebetulan juga, sebelah gua ibu-ibu. ”Fyuh,… Jangan sampe deh ada yang minta tukeran bangku.”

Maka dari itu, buat cowok-cowok yang mau naik kereta dari Semarang ke Jakarta kudu ati-ati. Jangan sampe lo yang jadi korban. Hehe…

Kepompong

Kalo dengerin lagu ini gua jadi inget si Aji. Ketika itu lagu ini belum booming kayak sekarang.
Ceritanya begini, jadi pada waktu itu gua ama Yunan berkunjung ke kos Aji. Tanggalnya gua lupa, tapi yg gua inget pada waktu itu adalah malam sebelum resepsi nikahnya Rohim-Dinar. Selain Aji disitu juga ada Blor.
Aji: “Ho, gua dapet lagu bagus nih! Judulnya kepompong.”
Maho: “Lagu apaan sih?”
Aji:”Lo dengerin aja deh.”
Si Ajie langsung menuju komputernya trus nyetel Winamp kenceng2. “Dulu kita sahabat teman begitu hangat mengalahkan sinar mentari….”
Maho: “Kayak lagu anak-anak. Emang selera lu ji…”
Yunan: “Iye tau, mending kite nyetel bokep aja” (sambil ngeliat kearah harddisk eksternal)
Blor: “………………………” (diem tapi kayaknya kepalanya ngangguk-ngangguk)
Maho: “Ini lagu buatan Papa T.Bob yak?”
Aji: “Bukan, ini lagunya Sindentosca.”
Yunan: “Sinden mah lagunya lagu sunda…” (matanya sambil terus mencari file-file bokep)
Aji: “Masak lo pada gak suka sih? Ya udah deh, mending kita puter aja lagu-lagu jadul”
Ternyata pemutaran lagu-lagu jadul itu berhasil. Suasana jadi lebih hidup. Yunan agak melupakan pencariannya. Sampai pada akhirnya kita semua menghabiskan malam itu dengan maen tebak-tebakan judul lagu dan penyanyinya.
Paginya kita bersiap-siap berangkat ke pernikahan Rohim-Dinar. Sebelum berangkat Yunan memutar beberapa file yang kemaren terlewatkan. “Nan… Nan… Wong si Rohim yang mo kawin kok malah lo yg belajar!”
Sore harinya tibalah giliran gua yg membakar. Hehe…

Keliatannya semua ini simpel, tapi lo perlu ketahui guys (or gays)… Hal kayak gini gak bakal gua lupa dan insyaAllah akan selalu tersimpan di memori gua yang 512MB. Hehe….

Tetapi di balik kesuksesan lagu kepompong tersimpan cerita pilu (atau bisa
dibilang apes) buat yang menciptakan lagu tersebut yaitu Jalu Hikmat
Fitriyadi.

Cerita tentang Jalu ini gua baca di tabloid Nova edisi 1085. (Kalo
dulu pelanggan BOLA, sekarang banting setir ke NOVA, mungkin besok
bakal jadi pelanggan MOM ‘n KIDDIE. Hehe…)

Ceritanya begini, akhir tahun lalu si Jalu ngirim master lagu itu ke
Prambors, lewat acara NuBuzz yang kemudian berkembang menjadi
perusahaan rekaman. Diluar dugaan, lagu tersebut booming dan sekarang
menjadi theme song dan judul sinetron di SCTV. Tak hanya itu,
kepompong juga laku keras di pasaran RBT (Ring Back Tone) dan udah
diunduh sebanyak 1,2 juta. Ironisnya, Jalu sebagai pencipta gak
menikmati hasil penjualan ciptaannya itu. Ini dikarenakan pihak NuBuzz
sebelumnya telah mengantongi perjanjian dengan Jalu sebelum lagu
tersebut menjadi ngetop. Jalu pun mengakui bahwa pernah menandatangani
kontrak tersebut. Tapi apa isinya, dia tak baca. Maen tandatangan aja
gitu.

Yunan: “Wah berarti kite mesti hati-hati tandatanganin kontrak buat
band kite, Ho!”
Maho:”Lagian siapa juga yang mau ngontrak Band Tanjidor!!! Kalo ada
yang nyunatin anaknya, baru dah kite dipanggil!”

Buat Jalu, I can feel what u feel. Tapi setidaknya lo udah dapetin apa
yang dinamakan ‘kepuasan batin’, sesuatu yang gak akan pernah bisa
ditukar dengan berapapun materi. Semoga lagu lo selanjutnya bisa
booming juga.
Buat Aji, kayaknya lo cocok jadi pengamat musik deh. Tau aja lagu yang
bakal booming.. Four thumbs!!!! (tangan dan kaki)
Buat temen-temen yang lain, bener tuh kata si Yunan. Kudu ati-ati
dalam menandatangani kontrak. Jangan keburu nafsu! Sebelum
menggoreskan pulpen, harus kita pahami dulu apa isi kontraknya.
Oke deh, tetep semangat yak!!!

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na…na…na….na….na…na….

Semua yang berlalu biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari
Siang berganti malam sembunyikan sinarnya
Hingga dia bersinar lagi

Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Keeeepompoooongggg

Nananana,,,,,nananana,,,,,nananana,,,,,,

Pengalaman di Rumah Sakit

Suatu pagi di bulan November,

“ Dit lu katanya mo ngurus surat bebas narkoba! Masih aja di depan komputer…” Bapak gua mengingatkan

”Iye sabar bentar lagi juga kelar (download-nya, hihi..)” jawab gua.

Hari itu memang gua berniat mengurus surat keterangan bebas narkoba di rumah sakit untuk persyaratan mendaftar CPNS. Maka, setelah gua shutdown komputer, gua langsung lari ke kamar mandi dan gak pake lama langsung keluar dalam keadaan rapih untuk kemudian melaju ke RSUD Bekasi.

Singkat kata, gua sampai di rumah sakit, mengantri untuk pendaftaran di loket 2.Walaupun sempat diselak beberapa orang, namun akhirnya sampai juga di depan loket.

”Pak, pilem pemadam kebakaran udah…, eh maksud saya mau bikin surat bebas narkoba.”

”Registrasi lima ribu, setelah ini langsung ke poliklinik umum di lantai 2.”

Sesampainya di lantai 2, tenyata poliklinik umum penuh sesak. Kebanyakan dari mereka juga mempunyai keperluan yang sama, mengurus syarat pendaftaran CPNS.

Hampir 1 jam berlalu, nama gua blom dipanggil-dipanggil. Begitu juga beberapa mas-mas yang dateng sebelum gua. ”Waduh bakal 3 tahunan nih!” Gua terus-menerus mondar-mandir depan pintu poliklinik umum. Beberapa orang ngikutin gua dan bersama-sama maen ular naga panjangnya bukan kepalang. Dan akhirnya… nama kami pun dipanggil.

Poliklinik umum ternyata hanya tempat registrasi ulang. Disana cuma ditanya apa keperluan dan penentuan biaya yang mesti dibayarkan. Dari sana, gua disuruh melanjutkan tes urine di laboratorium.

”Aditya!!!”

”Ya bu, hadir!”

Gua diberikan sebuah tabung. Mirip seperti tabung mainan gelembung sabun, tapi kosongan.

”Isi ya….”

”Dimana bu?”

”Di WC lah…”

”Oh kirain disini” kata gua polos sambil menaikkan celana kembali.

Di WC ternyata masih juga ngantri. Iseng-iseng gua ngobrol aja sama ibu-ibu yang lagi nungguin nenek-nenek (mungkin ibunya).

”Ibunya sakit apa? Gula?” tanya gua sok tahu.

”Bukan, kadar gulanya normal. Mungkin sakit garem kali.” jawab ibu itu

”Mungkin juga sih, apalagi kalo dia dulu penjaga pantai.” kata gua lagi

”Iya, beliau memang pensiunan penjaga pantai.” jawab ibu itu dengan mata berbinar-binar.

”Oh, pantes… Semoga ibunya cepet sembuh” gua memberikan dorongan moril.

Gak lama, nenek itu pun keluar dan saatnya gua gantian yang beraksi.

Gua tutup pintu….

Suasana jadi hening…

Eksekusi pun dimulai!

Tapi, sebelumnya ”dari nol ya pak…”

Cyuuurrr…. Mengalirlah mililiter demi mililiter.

Waduh!!! Overload nih!

Gua lupa kalo harga pertamax udah turun.

Kemudian gua berikan sampel itu kepada ibu-ibu penjaga lab.

1 jam kemudian barulah hasilnya diketahui.

”Negative!!!”

”Yes!”

”Loh knapa gua mesti seneng?”

”Wong emang gua pada dasarnya clean”

Dari lab, gua kemudian menuju ke poliklinik jiwa untuk mengambil surat keterangan.

Sebenernya gua juga heran kenapa mesti ngambil di poliklinik jiwa sih? Tapi gua positive thinking aja. ”Ooo, mungkin poliklinik jiwa kerjaannya lebih sedikit dibanding poliklinik lainnya.” Memang sih, sesampainya disana poliklinik jiwa kondisinya sepi sekali. Setelah menyerahkan data lab, gua disuruh nunggu diluar.

Poliklinik jiwa letaknya berdekatan dengan poliklinik gigi. Jadi dari situ gua bisa ngeliat orang-orang berseliweran di depan poliklinik gigi. Jadi agak lumayan deh, menyeimbangkan sepinya poliklinik jiwa.

”Krek..” Pintu poliklinik gigi terbuka.

Dari sana keluar beberapa orang dokter koas.

”Waduh peragaan busana neh..”

”But…, wait a minute.”

Diantara dokter-dokter koas itu ada salah satu yang menarik perhatian gua.

—-Mulai deskripsi 17th.com—-

Gadis itu blasteran ras kaukasia. Kulitnya putih. Rambutnya panjang lurus, diikat ke belakang. Tubuhnya bak peragawati, lebih tinggi dari koas-koas yang lain. ”Wajar lah, bule gitu loh.” Ukuran dada mungkin sekitar 34B (setelah gua tanya ke mbak-mbak sebelah gua, soalnya sama sih), sementara belakang tidak terlalu kelihatan karena tertutup jas putih dokter. Mirip Arumi Bachsin, bintang iklan biore yang adegan berenang itu lho. Pokoknya makcrut deh… (Kalo gak percaya dateng aja ke RSUD Bekasi dari jam 07.00-12.00)

Pikiran gua jadi macem-macem.

Coba aja tadi gua sekalian periksa gigi.

”Bu dokter gigi saya sakit nih…”

”Yang mana say?”

”Geraham kanan sebelah atas. Ada kulit melinjo yang nyangkut.”

”Ooo itu, sini biar aku ambilin pakai lidah.”

Dokter koas itu mendekatkan bibirnya ke bibirku lalu mengambil gergaji mesin dan menyalakannya.

$$@%^#$$&^%&%&&*!!#!$!

”Loh, loh, loh!!!”

”Kok khayalan gua bisa buyar gitu?”

Ternyata ada ibu-ibu yang lewat sambil menggandeng ibu-ibu yang lainnya. Dari gerakannya yang pelan jelas nampak bahwa ibu-ibu yang digandeng itu sedang sakit, tapi aku belum tahu apa sakitnya sampai suatu ketika ibu itu berteriak-teriak.

”Ngen***… Ngen***”

Suasana rumah sakit yang riuh berubah sepi dalam hitungan detik. Gua akhirnya tahu kalo ibu itu mengalami gangguan jiwa. Gua menghela nafas kemudian menengok ke samping kiri.

”Nah lho, mbak-mbak di sebelah gua mana nih?”

Ternyata ia pindah tempat duduk di sebelah bapaknya.

”Feeling gua gak enak nih”

”Kok agak-agak merinding ya?”

Firasat buruk gua menjadi kenyataan. Pasien gila itu itu duduk disamping gua.

”Gua sakit jiwa ya???” tanyanya.

Gua mencoba tenang ”Eng.. Enggak kok. Bentar lagi juga sehat.”

”Bener gua gak sakit???” dia kemudian menanyakan hal yang sama sambil membentak

”Iiii.. iya bener kok. Suer deh, kalo boong mau saya dicium suster.” jawab gua yang makin stress.

Agak lama tenang, kemudian orang sinting itu bertanya lagi”Eh, gua cantik gak?”

Gua ngelirik ke belakang ke ibu yang mengantar pasien sakit jiwa itu. Gua lihat dia mengasih kode untuk mengiyakan saja.

”Iii.. iya cantik.” akhirnya kata itu meluncur begitu saja dari mulut gua.

Sebenernya gua mau nambahin ”kayak luna maya.” tapi berhubung kalo diliat-liat pasien itu lebih mirip hansip RT03, si rojali kalo lagi cukur kumis,gak jadi deh kalimat itu gua keluarin. Daripada nantinya gak ikhlas.

Ibu yang mengantar pasien sakit jiwa itu (dari pengakuannya, ia kakak ipar pasien) mungkin salut atas kesabaran gua. ”Hmm, kayaknya pemuda ini cocok jadi dokter atau kyai.” kemungkinan pujian darinya dalam hati.

”Mas-nya juga nunggu di poliklinik jiwa?” tanyanya.

”Iya bu.” Jawab gua

”Nganterin siapa?” dia tampak penasaran.

”Oh, gak kok bu. Saya disini mau mengurus surat bebas narkoba.” Gua mencoba menjelaskan.

Namun, tak disangka. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Orang gila tadi rupanya menguping pembicaraan gua.

”Lo narkoba ya? Gua tonjok lo!!!” tiba-tiba dia berdiri sambil mengepalkan tangan.

Sontak gua kaget. Untung aja kakak iparnya agak lincah. Selametlah gua.

”Fyuuuh…..”

Gak lama kemudian, HP gua berdering. ”Bagus nih ada alesan buat pindah bangku.” Gua langsung berdiri, ngobrol sambil jalan. Dari situ gua dapetin fakta bahwa mereka yang nunggu surat keterangan bareng gua ternyata nggak duduk di depan poliklinik jiwa. Tapi di tempat lainnya yang berdekatan.

”Duh, tengsin gua. Mana diketawain lagi.”

”Kapok deh. Lain kali jangan main-main dekat orang gila.”

”Hiiiii…..”

(Maho)

KPI Tolak Tayang Kebanci-bancian

Hidup KPI!!! (dalam kasus ini gua mendukung)
Gitu dong.. Jangan cuma smackdown aja (hiks.. hiks..). Tayangan banci
juga harus diberantas. Itu kan ‘penyakit menular’ masyarakat. Mau
rakyat Indonesia jadi banci semua???? Yg nonton kan gak cuma orang
dewasa (yg bisa bedain mana yg realitas mana yg bukan) tapi anak2
kecil juga ikut2an. Mengutip perkataan seorang psikolog bahwa anak
usia 0-8 tahun pertumbuhan sel-sel otaknya belum sempurna. Dimana pada
saat itu apa yg mereka akan merekam segala sesuatu yg terjadi pada
lingkungan sekitarnya. Dan ketika pertumbuhan sel-sel di otaknya sudah
sempurna, memori tersebut tidak akan hilang bahkan melekat hingga
dapat mempengaruhi karakter individunya. Jadi, tidak heran seorang
anak yg tinggal di lingkungan yg keras dapat menjadi brutal ketika
dewasa. Begitupula karakter banci yang ditontonnya melalui media,
terekam dengan baik dan sewaktu-waktu dapat ‘dikeluarkannya’ . Hmmm..
tinggal tunggu tanggal mainnya. Iiihhh… serem bo… eke jadi takut…

Bangkit itu….

Daripada ngeliat iklan Roncar Anti Maling yang cupunya gak ketulungan atau nonton iklan ‘breaking news’-nya Wiranto yang terkesan ngambil kesempatan dalam kesempitan & kesusahan, mending kita simak iklan (layanan masyarakat) menyambut hari kebangkitan nasional yang dibintangi Deddy Mizwar. Aslee…. Gua suka banget. Sapa yak yang ngarang syairnya? Keren banget!!! Two thumbs!!

Bangkit itu susah…
Susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang.

Bangkit itu takut…
Takut korupsi, takut makan yang bukan haknya.

Bangkit itu mencuri…
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi.

Bangkit itu marah…
Marah bila martabat bangsa dilecehkan.

Bangkit itu malu…
Malu jadi benalu, malu karena minta melulu.

Bangkit itu tidak ada…
Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa.

Bangkit itu aku…
Untuk Indonesiaku.

Dramatis, bukan Dagelanis

Siapa yang bermental terkuat itulah yang tertawa terakhir. Dan itu yang terjadi pada final Liga Champions kemarin yang dimenangkan oleh Manchester United melalui drama adu penalti.
Final kemarin sungguh menyajikan pertandingan yang menarik. 120 menit lebih 2 tim saling menyerang. Namun, hasil imbang memaksa mereka menyelesaikannya melalui titik putih.
Menit 26, Ronaldo mencetak gol untuk Man. United. Pada saat yang sama, gua masih diatas genteng, berusaha untuk betulin kabel antena yang copot sambungannya. Pada menit 30-an, gua baru berhasil nonton walaupun agak kresek2. Gapapa deh daripada kelamaan.
Babak pertama ternyata dikuasai oleh anak2 Man United (baca: setan merah). Berulang kali tevez, dkk membombardir gawang Chelsea. Untung aja dibawah mistar gawang Chelsea berdiri Petr Cech. Orang yang satu ini emang rada ngeselin, lincah banget. Gua aja kalo di PS susah ngejebol gawang dia. Gua rasa dia pede gara2 pake helm kali yak. Gak bakal kena tilang.
Chelsea juga beruntung punya gelandang berjiwa badak pada tubuh Michael Essien. Gua heran aja setiap pemain MU yang lagi lari trus papasan ma dia pasti berhenti. Jangan2 si Essien pernah belajar ilmu totok, coz denger2 dia suka banget nonton pilem Yoko pendekar rajawali sakti. Ato jangan2 dia dulu tukang parkir kali yak, begitu disemprit pemain berhenti trus pada ngasih gopek.
Apapun itu, Essien perlu diacungi jempol (kaki). Karena dari dia pulalah gol Chelsea bermula. Tendangan asal-asalannya menyentuh pemain MU, Nemanja Vidic yang mengakibatkan bola berbelok arah dan disambar Frank Lampard. Skor 1-1!
Babak kedua Chelsea balik menekan. Dua kali tendangan mengenai tiang, satu dari Lampard, satu lagi hasil sepakan seorang guru debus, Didier Drogba. Apa mau dikata kedudukan tetap 1-1 sampai 90 menit berakhir.
Pada perpanjangan waktu, tensi pertandingan meningkat sampai mengakibatkan wasit mengeluarkan kartu merah untuk Drogba karena menampar Vidic menggunakan tangan yang sebelumnya dipakai untuk mengorek hidung. Dari tayangan ulang tampak upil Drogba menempel di pipi Vidic.
Unggul jumlah pemain, MU menggempur pertahanan Chelsea. Namun sisa waktu yang sedikit membuat MU tidak mampu mengubah skor sehingga memaksakan pertandingan dilanjutkan melalui drama adu penalti.
Empat penendang awal sukses menceploskan bola sementara penendang ketiga MU, Sang Super Star Ronaldo malah gagal. Gua makin tegang, mulut terus mengunyah kacang oven yang toplesnya dipegang tangan kanan, sementara tangan kiri memegang majalah FHM.
Setelah itu, empat penendang kembali berhasil. Kedudukan 4-4 dan Chelsea masih memiliki satu orang penendang yang belum mengeksekusi, the Captain John Terry. Apabila JT berhasil maka Chelsea akan menjadi juara baru dan bagi Ronaldo, ini bakal menjadi antiklimaksnya.
Gua udah gak sanggup ngeliat ini. Mata kiri gua udah ditutup bantal, sementara mata kanan dikasih tetes mata biar keliatan tragis. Tapi…., ternyata hoki dan kesialan hanya berbeda hitungan detik. JT terpeleset (mungkin oleh reak yang dilepeh oleh Nani yang melakukan tendangan sebelumnya) sehingga bola sepakannya pun membentur tiang. Yes!!!!! Eksekutor penalti pun ditambah.
Anderson berhasil. Begitu juga Kalou dan Giggs. 6-5 untuk MU.
Nicolas Anelka menjadi eksekutor Chelsea. Gak terasa kacang oven sudah menyisakan beberapa biji (baca: butir) dari awal sebanyak 1 toples. Mulut gua terus mengunyah kacang dan setelah habis mulai menggigiti toples sementara Anelka mengambil ancang-ancang. Pandangannya kosong, seperti tidak yakin kemampuan dirinya. "Pertanda baik nih…". Dan…, tendangan Anelka ditepis van der Sar. MU kembali meraih trofi untuk ketiga kalinya. Hore!!!!
Selamat buat Manchester United, buat Chelsea: Jangan patah semangat, tahun depan mungkin bisa (kalah lagi). He he..

Apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia???

Indonesia
<HOORNEY MODE: OFF>

Sebelumnya saya ingin memberi selamat
pada para atlet kita yang dapat
mempersembahkan medali bagi Indonesia.
Sampai tulisan saya ini rampung,
Indonesia masih berada pada peringkat
ke-4 perolehan medali Sea Games XXIV.
Hal ini sungguh memalukan buat bangsa
sebesar Indonesia yang notabene
mempunyai jumlah penduduk terbanyak
se-Asia Tenggara. Apakah ini berarti SDM
kita tak mempunyai potensi?

Selasa, 4 Desember 2007, saya menjadi
salah satu saksi dari (mungkin) sekian
juta orang yang menonton pertandingan
sepakbola antara timnas kita melawan
Myanmar. Ketika itu Indonesia hanya
membutuhkan satu gol kemenangan untuk
meloloskan diri ke semifinal. Nyatanya
hasil imbang tanpa gol justru menjadi
titik balik tersingkirnya timnas
kebanggaan kita dari perhelatan olahraga
terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Saya tidak tahu apa yang orang lain
rasakan. Saya sendiri sangat terpukul.
Sempat bengong beberapa saat sebelum
tersadar kemudian. “Mimpi apa semalam?”
Saya betul-betul tidak menyangka hasil
ini. Saya mengira paling tidak timnas
kita dapat melenggang sampai ke final.
Asa yang tidak muluk-muluk, mengingat
calon kuat untuk cabang ini, Thailand
mempunyai reputasi yang sangat baik di
ajang ini. Belum lagi faktor mereka
sebagai tuan rumah.

Entah apa yang ada di benak para pemain
kita? Dengar-dengar sebelum pertandingan
versus Myanmar, pemain kita
“diiming-imingi” bonus Rp 200 juta.
Jumlah yang cukup besar buat saya dan
saya rasa hal ini cukup memotivasi para
pemain. Jelas ini bukan penyebab
kegagalan kita. Ada hal lain.

Saya meyakini penyebabnya adalah ‘Wabah
X’. Wabah yang sudah menjangkit hampir
ke seluruh rakyat Indonesia. Wabah yang
membuat setiap orang hanya memikirkan
dirinya sendiri, terlalu meninggikan
ego, tidak mempunyai dedikasi dan
meninggalkan tanggung jawab tetapi
selalu menuntut hak. Rasa patriotisme
telah berkurang di negeri ini.

Kalau kondisinya sudah begini, terasa
sia-sia darah mengucur dari raga
pahlawan-pahlawan kita. Mubadzir rasanya
keringat meleleh dari pori-pori mereka.
Percuma 17 Agustus kita peringati setiap
tahun jikalau maknanya tidak sampai
menancap di hati!

Saya mungkin bukan siapa-siapa. Tapi
mohon dengan sangat renungkanlah hal
ini. Sebagai tambahan, saya berkeyakinan
bahwa tidak akan ada bangsa lain berani
mengusik bangsa kita jikalau setiap
warga negara mempunyai rasa bangga
menjadi rakyat Indonesia. Tidak akan ada
bangsa lain berani menginjak-injak
kehormatan bangsa kita jikalau setiap
warga negara dengan lantang menyerukan
“sebuah kehormatan bagiku menjadi bagian
dari bangsa Indonesia!”

Semoga Indonesia menjadi negara maju di
segala bidang dan tercipta kemakmuran
bagi seluruh warga negaranya. Amin.

MAHO

Sepakbola Indah

Musim ini goyangan Cristiano Ronaldo,liukan Lionel Messi, gol-gol fantastis Fabio Quagliarella serta attacking football yang diusung klub-klub Liga Inggris dan Spanyol menyita perhatian orang banyak. Daya tariknya apalagi jika bukan keindahan.

Ironisnya, sejak Euro 2004 turnamen-turnamen sepakbola berkelas internasional seperti Piala Eropa, Piala Dunia bahkan Liga Champions dikuasai oleh tim-tim yang mengusung negative football. Tim-tim tersebut cenderung menerapkan permainan aman, lebih memfokuskan ke pertahanan dengan hanya sesekali melakukan counter attack dan tidak menampakkan keindahan dalam memainkan si kulit bundar.

Berbicara soal keindahan, saya jadi ingat perkataan teman saya "Tidak peduli berapa banyak gol yang kita buat, yang terpenting adalah bagaimana indahnya gol tersebut". Saya rasa omongan itu ada benarnya juga. Di masa sekarang, sepakbola telah menjadi industri yang menuntut setiap tim untuk menang walaupun dengan memanfaatkan segala cara bahkan meninggalkan unsur hiburan dan sportivitas. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kebutuhan kita sebagai penikmat sepakbola. Sebagai penonton, kita tentu akan lebih puas jika disajikan permainan yang indah dan atraktif. So, marilah kita dukung sepakbola indah. Say no to negative football!

Dscf0005